Dalil 1 QS. al-Ahzab : 56
ِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.
Dalil 2
سنن أبي داوود ١٧٤٦: …عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
Sunan Abu Daud 1746: … Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (tidak pernah dilaksanakan di dalamnya shalat dan juga tidak pernah dibacakan ayat-ayat Al Quran, sehingga seperti kuburan), dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai 'id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi pada setiap waktu dan saat), dan Bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada."
Dalil 3
سنن الترمذي ٣٤٦٨: …عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ…
Sunan Tirmidzi 3468:… Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku….
Dalil 4
Musnad Ahmad 16455: ... Dari Abu Mas'ud, Uqbah bin 'Amr Al Anshari berkata: ada seorang laki-laki yang datang sehingga dia duduk di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan kami pada saat sedang berada di samping beliau. Lalu orang itu berkata: "Wahai Rasulullah, berkenaan ucapan salam terhadap anda kami telah mengetahuinya, lalu bagaimana kami harus mengucapkan shalawat atas anda saat kami shalat?." ... Lalu beliau bersabda: "Jika kalian hendak mengucapkan salawat atasku, maka bacalah: ALLAHUMMA SHALLI 'ALA MUHAMMAD AN-NABIYIL UMI WA 'ALA ALI MUHAMMAD. KAMA SHALLAITA 'ALA IBRAHIM DAN KELUARGA IBRAHIM. WA BARIK 'ALA MUHAMMAD WA 'ALA ALI MUHAMMAD AN-NABIYIL UMI KAMA BARAKTA 'ALA IBRAHIM WA 'ALA ALI IBRAHIM FIL 'ALAMIN INNAKA HAMIDUN MAJID...
Dalil 5
سنن أبي داوود ٨٨٣: …عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
Sunan Abu Daud 883: …Dari Aus bin Aus dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jumat, pada hari itu Adam di ciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala) dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku." Aus bin Aus berkata: para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara anda telah tiada (meninggal)? atau mereka berkata: "Telah hancur (menjadi tulang)"- Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah azza wa jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi."
Dalil 6
مسند أحمد ١٥٩: ..عَنْ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Musnad Ahmad 159: … Dari Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nashrani mengkultuskan Isa putra Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba dan Rasul-Nya."
Dalil 7
سنن أبي داوود ٤١٧٢: …عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ قَالَ أَبِي انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ
Sunan Abu Daud 4172: … Dari Abu Nadhrah dari Mutharrif ia berkata: Bapakku berkata: … Aku pergi bersama rombongan utusan bani Amir menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami lalu berkata: "Engkau adalah junjungan kami." Beliau langsung menyahut: "Junjungan itu hanyalah Allah Ta'ala semata." Kami berkata lagi: "Engkau adalah yang paling utama di antara kami dan memiliki kemuliaan yang besar." Beliau bersabda: "Berkatalah kalian dengan perkataan kalian, atau sebagian dari perkataan kalian (tidak perlu banyak pujian), dan jangan sekali-kali kalian terpengaruh oleh setan."
Dalil 8
سنن الترمذي ٢٨٩٥: …عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ { وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ } قَالَ الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ وَقَرَأَ{ وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِلَى قَوْلِهِ دَاخِرِينَ } قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Sunan Tirmidzi 2895: ...Dari Nu'man bin Basyir dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang firman Allah: "Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu." QS Ghafir: 60. Beliau bersabda: "Do'a adalah ibadah" beliau lalu membaca: "WA QAALA RABBUKUM UD 'UUNII ASTAJIB LAKUM (Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu) sampai ayat DAAKHIRIIN." Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih.
Dalil 9 QS. Al-Isra' : 110
قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Serulah ‘Allah’ atau serulah ‘Ar-Raḥmān’! Nama mana saja yang kamu seru, (maka itu baik) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna). Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!”
Dalil 10
صحيح البخاري ٢٧٧٠: …عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ
Shahih Bukhari 2770: … Dari Abu Musa Al Asy'ariy radliyallahu 'anhu berkata: Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya".
Dalil 1 pengertian shalawat secara bahasa
صَلَّى – يُصَلِّي – صَلَاةً بِمَعْنَى الدُعَاءُ, التَّبْرِيْكُ, التَّكْرِيمُ, التَّسْلِيمُ, وَالعِبَادَةُ. وَالْجَمْعُ صَلَوَاتٌ
Shalla yushalli shalatan bermakna doá, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan dan ibadah. dan jamaknya adalah shalawat. (Lisan al-Arabi 14/464-466).
Dalam tafsir Zaadul Masiir: QS. al-Ahzab 43, 3/470 karya Jamaluddin Al-Jauzy mengatakan “mengenai makna sholawat Alloh terdapat lima pengertian : yaitu rahmat-Nya, ampunan-Nya, pujian-Nya, kemurahan hati-Nya, dan keberkahan-Nya. Sedangkan shalawat Malaikat mengandung dua makna yaitu doa dan permohonan pengampunan mereka”. Dengan keterangan ini mari perhatikan kalimat bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya menunjukkan adanya perintah dari Allah SWT agar kita memberi penghormatan dan salam kepada nabi, dan pengertian shalawat yang dimaksud adalah sebagai bentuk penghormatan, dan doa kepada Allah agar nabi mendapat, rahmat-Nya, ampunan-Nya, pujian-Nya, kemurahan hati-Nya, dan keberkahan-Nya serta ibadah bagi kita yang mengamalkanya. Adapun kaifiyat bershalawat kepada nabi dengan kalimat shallallahu 'alaihi dan pengucapan salam dengan kalimat wa sallam dan secara umum kalimat ini menjadi bagian yang para sahabat amalkan ketika menyebut nama Nabi dengan lengkap yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dalil 2 kalimat Bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada menunjukkan secara umum perintah dari Rasulullah untuk bershalawat.
Dalil 3 kalimat Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku menunjukkan bila dalil no. 2 adanya perintah secara umum bershalawat dalil ini menunjukkan bershalawat ketika nama Nabi disebut.
Dalil 4 kalimat, lalu bagaimana kami harus mengucapkan shalawat atas anda saat kami shalat?." ... Lalu beliau bersabda: "Jika kalian hendak mengucapkan salawat atasku, maka bacalah: ALLAHUMMA SHALLI 'ALA MUHAMMAD AN-NABIYIL UMI WA 'ALA ALI MUHAMMAD. KAMA SHALLAITA 'ALA IBRAHIM DAN KELUARGA IBRAHIM. WA BARIK 'ALA MUHAMMAD WA 'ALA ALI MUHAMMAD AN-NABIYIL UMI KAMA BARAKTA 'ALA IBRAHIM WA 'ALA ALI IBRAHIM FIL 'ALAMIN INNAKA HAMIDUN MAJID Menunjukkan adanya kaifiyat shalawat dalam shalat yang langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dalil 5 kalimat Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jumat, pada hari itu Adam di ciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala) dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku menunjukkan bahwa pada hari jumat agar memperbanyak shalawat.
1. Imam al-Bukhari, al-Tirmidzi, Abu Hatim, Abu Zur’ah cenderung mendha’ifkan hadits tersebut dengan alasan bahwa :
قال: ورأى هذا عبد الرحمن بن يزيد ابن تميم، وهو منكر الحديث.
(Beliau [al-Bukhārī] berkata: Dan aku melihat bahwa ini adalah riwayat ‘Abdurraḥmān bin Yazīd bin Tamīm, dan ia munkar al-ḥadīts). (al-Ahkam al-Kubro III:367)
وأعله آخرون كالبخاري وأبو حاتم الرازي وغيرهم.
Dan telah memberikan penilaian cacat ulama yang lain seperti al-Bukhari, Abu Hatim al-Razi dan selain dari mereka (Tahdzib Sunan Abi Dawud I:254)
2. Imam al-Daruquthni dalam hal lain menyatakan:
وإنما هو ابن تميم، وقد روى عنه الكوفيون أبو أسامة والحسين الجعفي وذووهما.
“Yang benar adalah ia (ʿAbdurraḥmān) bin Tamīm, dan yang meriwayatkan darinya adalah para perawi Kūfah: Abū Usāmah, al-Ḥusayn al-Juʿfī, dan yang semisal keduanya.” (al-Majruhin li Ibni Hibban)
Dan dalam hal lain juga dikatakan
وكذا أنكر الدارقطني على من قال: إن حسيناً سمع من ابن تميم وقال: إنما سمع من ابن جابر، قال: والذي سمع من ابن تميم هو أبو أسامة وغلط في اسم جده: فقال: ابن جابر، وهو ابن تميم
‘’ Imam al-Daruquthni mengingkari orang yang mengatakan bahwa Husain mendengar dari ‘Abdurrahman bin Yazid bin Tamim, padahal ia sebenarnya mendengar dari ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jabir. Karena orang yang keliru itu hanyalah Abu Usamah dan ia Ghalath (ada kekeliruan) dalam menyebutkan nasab kakeknya, yakni Ibnu Jabir, padahal yang sebenarnya adalah Ibnu Tamim. ‘’(Syarh ‘Ilal al-Tirmidzi II:819)
Jadi al-Daruquthni cenderung moderat dan mengambil jalan tengah yakni menerima hadits tersebut karena kekeliruan ini hanya dari Abu usamah dan tidak merubah kualitas hadits sebagaimana kaidah umum di halaman sebelumnya
3. Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Sunan Ibnu Majah menyatakan:
صحيح لغيره، وهذا إسناد رجاله ثقات غير عبد الرحمن بن يزيد فقد اختلفوا في تعيينه، فذهب الدارقطني وغيره إلى أنه ابن جابر الثقة، وعليه فالإسناد صحيح
‘’ (hadits ini) shahih lighairih, dan sanad ini rijal haditsnya tsiqah kecuali ‘abdurrahman bin yazid maka sungguh para ulama memperselisihkan terkait kejelasan (penisbatannya), al-Daruquthni berpendapat dan selainnya bahwa sesungguhnya itu adalah ibnu Jabir yang tsiqah, maka oleh karena itu sanadnya shahih ‘’ (Sunan Ibnu Majah II:186 No. 1085)
4. Secara disiplin ilmu hadits, hadits bisa dinyatakan dla’if apabila kedla’ifannya jelas bagi dla’if sanad maupun matan. Dalam hadits ini, yang menjadi permasalahan adalah sanad, karena ada rawi yang diperselisihkan terkait nasab kakek yakni antara ibnu jabir dan ibnu tamim. Maka dalam kaidah dikatakan:
إِنَّ اخْتِلَافَ الرُّوَاةِ فِي اسْمِ رَجُلٍ، أَوْ نَسَبِهِ لَا يُؤَثِّرُ
“sesungguhnya Perbedaan para perawi dalam menamai seseorang atau menisbahkannya tidak berpengaruh (merusak).” (Fath al-Mugits bi Syarh alfiyyah al-Hadits I:292)
Terlepas dari polemik tersebut, hujjah imam al-Bukhari dapat diterima karena pentadh’ifan ini bersifat jelas dan ia meyakini bahwa riwayat itu dari ibnu tamim bukan dari ibnu jabir. Dan ibnu majah menerima hadits ini karena pentadh’ifan ini keliru dengan catatan bahwa ia meyakini hadits tersebut dari ibnu jabir bukan ibnu tamim. Maka ini bersifat muhmal (mengandung berbagai kemungkinan).
5. Hasil Analisa syawahid, keseluruhan haditsnya tidaklah kuat atau dloif, namun kedha’ifannya tidak sampai kepada derajat dho’if berat. Maka berlakulah kaidah:
والحديث الضعيف إذا رُوي من وجوه أُخَر بمثله أو نحوه، فإنه يقوى بذلك، ويصير حسناً لغيره.
hadis yang dha‘if, bila diriwayatkan melalui jalur lain yang semisal atau sepadan dengannya, maka hadis tersebut menjadi kuat dengan itu, dan naik derajatnya menjadi ḥasan li-ghayrihi. (Muqaddimah Ibn Shalah hal. 98)
الأحاديث الضعيفة يقوّي بعضها بعضا
Hadits-hadits dha’if dapat menguatkan satu sama lain.
Kesimpulan Hadist
1. Hadits tentang Shalawat pada Hari Jum’at pada dasarnya merupakan hadits dha’if sebagaimana pernyataan para ulama jarh ta’dil seperti al-Bukhari, Abu hatim, Abu Zur’ah dan lainnya (Dalam kitab al-Ahkam al-Kubro hal. 3 No. 367)
2. Hadits tentang shalawat pada hari Jum’at secara kedha’ifannya bisa naik derajat menjadi hasan lighairih dengan pendapat yang dikuatkan oleh al-Daruquthni, Syu’aib al-Arnauth.(ta`liq Sunan Ibnu Majah II:186 No. 1085)
Kesimpulan kami tentang hadist memperbanyak shalawat di hari jumat :
Bila kita perhatikan dalil ini secara terperinci maka, hadits ini terdapat keguncangan dalam sanad bahkan cenderung dhaif, tetapi bila kita telaah kembali syawahid dan muttabi terutama al-Quran dan hadits-hadits lainnya yang shahih (QS. Al-Ahzab: 57 dan Sunan Abu Daud 1746 serta Sunan at-Tirmidzi 3468) maka kami cenderung memandang status dalil ini hasan lighairihi dan dapat diamalkan.
Dalil 6 kalimat Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nashrani mengkultuskan Isa putra Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba dan Rasul-Nya menunjukkan dalam pelaksanaan penghormatan terhadap Nabi ﷺ agar diperhatikan untuk tidak berlebihan.
Dalil 7 kalimat Aku pergi bersama rombongan utusan bani Amir menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami lalu berkata: "Engkau adalah junjungan kami." Beliau langsung menyahut: "Junjungan itu hanyalah Allah Ta'ala semata." Kami berkata lagi: "Engkau adalah yang paling utama di antara kami dan memiliki kemuliaan yang besar." Beliau bersabda: "Berkatalah kalian dengan perkataan kalian, atau sebagian dari perkataan kalian (tidak perlu banyak pujian), dan jangan sekali-kali kalian terpengaruh oleh setan." Menunjukkan berlebihan penghormatan terhadap Nabi ﷺ bagian dari larangan yang sangat keras.
Dalil 8 kalimat Saya mendengar Nabi ﷺ bersabda, 'Do'a itu adalah ibadah' kemudian dalil 9 Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!” dan dalil 10 "Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian menunjukkan bahwa shalawat itu adalah bentuk mendoakan Nabi ﷺ kepada Allah SWT maka ibadah ini harus dilakukan dengan suara tidak keras dan tidak pelan tetapi pertengahan dalam kaifiyatnya.
Kesimpulan dalil perintah Allah SWT agar kita memberi shalawat dan salam kepada Nabi ﷺ secara umum bisa diamalkan dimana kita mengingatnya atau mendengar namanya, dan hal ini bagian dari ibadah, termasuk dalam shalat yang secara pasti kita akan mengamalkanya karena bagian dari bacaan shalat itu sendiri, sehingga memperbanyak shalat sunnah di hari jumat berarti mengamal memperbanyak shalawat, pada pelaksanaannya ada hal-hal yang mesti menjadi perhatian bersama larangan keras untuk tidak berlebihan dalam kaifiyatnya baik kalimat (jangan sampai menyamakan sifat Allah SWT), suara (tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan artinya pertengahan) dan pelaksanaannya tidak menganggu orang lain (termasuk hari jumat di dalam masjid), sehingga perintah memperbanyak shalawat dihari jumat tercapai maksud dan tujuannya.
Memperbanyak shalawat adalah meperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ di hari jumat dalam bentuk pengucapan shalawat dan salam baik itu dilakukan ketika kita mengingat, mendengar namanya, dan atau memperbanyak shalat sunnah.