Dalil 1
صحيح البخاري ٥٧٦: …عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
Shahih Bukhari 576: …Dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin."
Dalil 2
… عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Shahih Muslim 578 … Umar bin al-Khaththab dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seorang mu'adzin mengumandangkan adzan seraya berseru, 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', lalu salah seorang di antara kalian mengucap, 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', kemudian mu'adzin berseru, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, lalu dia berucap, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, kemudian mu'adzin melanjutkan, 'Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah', lalu dia mengucap, 'Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah', kemudian mu'adzin berseru, 'Marilah shalat', dan dia membaca, 'Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah', kemudian mu'adzin berseru, 'Marilah menuju kebahagiaan, ' lalu dia menjawab, 'Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah', kemudian mu'adzin berkata: 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', lalu dia menjawab, 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', kemudian (menutup adzannya) dengan lafadz, 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selian Allah', lalu dia menjawab dengan lafadz, 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selian Allah'. (Jika dia melakukan hal itu) dengan sepenuh hati, niscaya dia masuk surga".
Dalil 3
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
Shahih Muslim 577 …Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila kalian mendengar mu'adzdzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan saya berharap agar saya menjadi hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa'at halal untuknya."
Dalil 4
صحيح البخاري ٥٧٩: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Shahih Bukhari 579 Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Ayyasy berkata: telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Abu Hamzah dari Muhammad Al Munkadir Dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa berdo'a setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA'IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH (Ya Allah, Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan). Maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat."
Dalil 1 kalimat, "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin." Menunjukan perintah melakukan ibadah menjawab adzan
Dalil 2 kalimat, , "Jika seorang mu'adzin mengumandangkan adzan seraya berseru, 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', lalu salah seorang di antara kalian mengucap, 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', kemudian mu'adzin berseru, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, lalu dia berucap, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, kemudian mu'adzin melanjutkan, 'Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah', lalu dia mengucap, 'Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah', kemudian mu'adzin berseru, 'Marilah shalat', dan dia membaca, 'Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah', kemudian mu'adzin berseru, 'Marilah menuju kebahagiaan, ' lalu dia menjawab, 'Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah', kemudian mu'adzin berkata: 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', lalu dia menjawab, 'Allah Mahabesar, Allah Mahabesar', kemudian (menutup adzannya) dengan lafadz, 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selian Allah', lalu dia menjawab dengan lafadz, 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selian Allah'. (Jika dia melakukan hal itu) dengan sepenuh hati, niscaya dia masuk surga".menunjukan kaifiyat menjawab adzan ialah mengikuti yang diucapkan oleh muadzin kecuali kalimat hayaalafallah dan hayaalsholah dijawab dengan lahaullawallakuwwataillahbillah kemudian kalimat (Jika dia melakukan hal itu) dengan sepenuh hati, niscaya dia masuk surga". Sebagai keterangan akan fadillah yang terdapat di dalamnya yang begitu besar.
Dalil 3 kalimat “kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan saya berharap agar saya menjadi hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa'at halal untuknya."menunjukan bahwa setelah mengikuti muadzin diperintah untuk bershalawat dan keterangan akan fadilah yang ada didalamnya yang begitu besar
Dalil 4 kalimat “ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA'IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH.”menunjukan bahwa shalawat yang dimaksud dalil no 4, bacaan shalawatnya dicontohkan langsung oleh nabi SAW, sehingga tidak bisa lagi membuat atau merekayasa bacaan shalawat dalam menjawab adzan,dan diakhiri dengan kalimat fadilah yang begitu besar yaitu ka;imat : “Maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat."
Dalil 5
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو نَصْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْفَامِيُّ قَالَا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ ثنا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ ثنا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءُ: اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا [ص:604] الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ الَّذِي وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي " رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَيَّاشٍ
Telah mengabarkan kepada kami abu abdillah al hafid dan abu naser ahmad bin ali bin ahmad al fami keduanya berkata telah menceritakan kepada kami abdul abbas Muhammad bin yakub telah menceritakan kepada kami Muhammad bin auf Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Ayyasy berkata: telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Abu Hamzah dari Muhammad Al Munkadir Dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa berdo'a setelah mendengar adzan: ALLAHUMA INNI ASALUKA BIHAQQI HADIHI DAWATTI TAMMAH WASOLATIL KOIMAH AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH INNAKALA TUHLIFUL MIAD (Baihaqqi sunan al kubro 1933)
Dalil 5, mari perhatikan redaksi dalil no 1 shalawat yang di maksud adalah “ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA'IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH.” Selain imam bukhori, Hadist ini juga di sampaikan oleh beberapa muharij yaitu imam ahmad 14092, imam abu daud 445,imam tirmidzi 195, imam nasaai 673, ibnu majjah 714 dan yang lainya semuanya redaksinya sama kecuali Dalil 5 redaksi shalawatnya adalah ALLAHUMA INNI ASALUKA BIHAQQI HADIHI DAWATTI TAMMAH WASOLATIL KOIMAH AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH INNAKALA TUHLIFUL MIAD, Bahaqi menyebutkan bahwa hadist ini dari shohih bukhori melalui jalur ali bin ayyas tetapi dalam karya Al Bukhari : khalqu af’al al-Ibad tidak tercantum, yang ada adalah seperti pada dalil no 1, dan bila kita teliti Kembali perbedaan sanad jalur ini terdapat pada tiga orang yaitu abu abdillah al hafid, abu naser ahmad bin ali bin ahmad al fami dan Muhammad bin auf ketiganya tidak terdapat dalam kitab-kitab rizal.
Dengan demikian redaksi dalil no 1 lebih Mahfud (terpelihara) sedangkan redaksi yang melalui jalur abu abdillah al hafid, abu naser ahmad bin ali bin ahmad al fami dan Muhammad bin auf (dalil no 5) sulit dipastikan dari nabi SAW, dengan demikian akan lebih menentramkan hati bila redaksi shalawat sesuai dengan redaksi dalil no 1.dan redaksi dalil no 5 tidak bisa diamalkan.
1. 1. Syuaeb al arnauth (tahqiq musnad ai imam ahmad XXIII :120-121) tentang tambahan allohuma inni as aluka bihaqqi hadzihid da`wati dan diakhir doa innaka tuhliful miad Muhammad bin ‘Auf meriwayatkan sendirian ia siqoh dari 'Ali bin 'Ayyasy, sebagaian ahli ilmu memasukan periwayatan seperti ini kedalam kategori syad (Kh.wawan shopwan s, tafakur, ADA APA DENGAN DO`A kita hal 106)
2. Syekh Al Albani dalam Irwa al-Ghalil “Tambahan إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ المِيْعَادَ di akhir teks riwayat Al Baihaqi adalah syadz. Karena tidak tercantum di seluruh jalur hadis dari Ali bin ‘Ayyasy. Kecuali dalam sahih Al Bukhari riwayat versi Al Kusymini (Al Kusymihani). Namun itu berbeda dari riwayat sahih al-Bukhari yang ada. Maka status riwayat itupun syadz, karena menyelisihi riwayat sahih Al Bukhari yang lainnya.
Kesimpulan kaifiyatat menjawab adzan adalah ketika muadzin mengumandangkan adzan maka ikuti setiap kalimatnya kecuali kalimat hayaalasholah dan hayyalafala dengan jawaban lahaullawalakuawataillahbillah setelah selesai lanjutkan dengan shalawat kepada nabi SAW, yaitu “ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA'IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH.” dan lakukanlah dengan penuh keyakinan
#Iqomah #hukumiqomah